Saturday, 20 October 2012

Cintaku Mampir di Rumah Janda

Cintaku Mampir di Rumah Janda
AKU menyelesaikan pendidikan S1 2008 akhir, aku telah berjanji ingin bebas dari hari-hari diatur jadwal selama 2 tahun, termasuk janji tidak menikah. Semua berhasil aku jalani, meski hampir mengahiri masa lajangku. Kebijakan ini juga untuk membalas jasa keluarga yang sudah berjibaku membiayai pendidikan ku selama ini.
Belum cukup 2 tahun janji itu, aku harus melepas nyawa ayah tercinta, pada umurnya masih cukup kuat untuk melaksanakan tugas sebagai kepala keluarga. Bagi ku ini masih terlalu dini ia meninggal, namun sang pencipta punya kehendak. Kala itu, aku harus kembali mengambil kebijakan, memperpanjang waktu untuk hanya akan mengabdikan diriku bagi ibu, adik-adik dan keluargaku, yang bisa aku bantu. Disetujui atau tidak ingin berupaya menjadi tulang sebilah tulang keluarga, walau tidak seberat tugas tulang punggung.
Untuk kebutuhan dalam rumah pada dasarnya kami memiliki sumber walau tidak bisa mewah. Tetapi ceritanya lain, sebagai anak tertua aku miliki tanggung jawab dan harus meneruskan cita-cita almarhum ayah tercinta, yang ingin anak-anaknya tidak mengulangi nasib dirinya. Dimana ia tidak bisa mengenyam pendidikan yang pantas, lantaran harus berpisah dengan nenekku (orang tua perempuan dari ayah red) sebelum bisa mengenal wajahnya dengan jelas. Aku tidak ingin surut sedikitpun,  Aku ingin membangun pondasi yang sudah ditinggal hingga berdiri bisa menjadi tempat bersandar keluarga. Suatau hari kelak inginku, meski aku tidak lagi di belakang, semua masih bisa berdiri dengan tegap.
Suwer, agaknya para pembaca heran, kisah diatas tidak sejalan dengan judul dimana ditekankan pada cinta. Cerita ini baru pengantarnya, kisah cinta sebenarnya seperti yang kita harapkan baru saja aku mulai pada babak ini.
Rekan-rekan, sering bertanya mengapa aku belum menikah. Sebab mereka menilai dibanyak segi aku sudah cukup layak. Bahkan tidak jarang pula mereka menjodohkan diriku dengan seseorang. Ini artinya mereka menyangka aku tidak memikirkan pasangan. Sebetulnya sejak beberapa waktu lalu, beberapa kali aku harus merelakan orang yang aku inginkan dan juga menginginkanku, untuk menikah dengan orang lain. Mereka tidak siap menunggu waktu yang aku tawarkan.
Saat ini aku punya seorang kekasih, tetapi ceriat kali ini bukdan kisah kami, sebelum cerita ini aku tulis sudah mendapat kesepakatan darinya dengan alasan profesionalitas. Yang akan ku kisah pertama ini hubunganku dengan seseorang yang sudah berakhir pada pengujung tahun 2011 lalu.
Saat aku berhubungan dengannya, bagi sebagian orang yang mengetahui menanggapinya beragam, ada yang menganggap aku tidak serius bahkan ada yang berpikir aku sedikit aneh. Aku sendiri saat itu belum mempublikasinya secara terbuka hubungan yang aku bangun, sebab mantan kakasihku itu adalah seorang janda beranak 1.
Entah aku harus mulai dari mana untuk menceritakan kisah cintaku  dengan janda yang pada saat itu sangat menarik bagiku. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana akhir dari kisah kami. Cinta kami yang menggebu-gebu, hanya mampu bertahan kurang dari 1 tahun. Ia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan hubungan yang sudah kami bina tersebut. Aku yakin saat itu bukan karena dia sudah tidak menyayangiku lagi, tapi karena kesiapan dariku, meski aku juga mencintainya tulus waktu itu.
Kisahku diawali dengan kebiasaanku bolak balik setiap satu kali dalam 2 minggu pulang ke rumah. Aku selalu mampir di warung keluarganya, sekedar istirahat. Pertemuan pertama kami kenalan, mampir ke dua berselang dua minggu langsung jalin hungan yang diawali saling sms sejak jumpa pertama. Selanjutnya kami juga beberapa kali berduaan di tempat-tempat yang biasa digunakan para pasangan untuk bersantai.
Bukan itu saja hubungan ku dengan anaknya juga cukup baik, bocah lucu tersebut selalu mengajak ku untuk bermain saat kami bersua. Aku sendiri juga sangat menyayangi anak dari kekasihku saat itu. Hubungan kami mulai terganggu saat Janda ini, menanyakan keseriusanku dan ingin melanjutkan hubungan kami kejenjang yang lebih tinggi (pernikahan red). Saat itu aku tidak bisa memberi jawaban.
Suatu hari Ia berkata, “Besok ada yang ingin kubicarakan denganmu!”
Saat kata - kata itu keluar dari mulutnya, perasaat ku mulain tidak enak, pasti terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.
Keesokan harinya dihadapan segelas kopi pahit yang dihidangkannya untuk ku di kursi belakang rumahnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi ia membuka pembicaraan dan membuatku shock berat.
“Sepertinya aku sudah menyerah, Aku sudah lelah, benar-benar lelah. Sepertinya hubungan kita, tidak akan membawa kebahagiaan untuk kita berdua kelak.  Aku juga tak mau kalau kamu menyakiti hati orang-orang sekitarmu. Hanya akan membuatku merasa bersalah seumur hidup. Asal kamu tahu, aku melakukan semua ini karena terpaksa”
Ternyata kopi pahit yang dihidangnya, memang lebih sesuai dengan perasaan hatiku. Sambil menyeruput kopi pahit aku berkata dengan emosi tertahan, “Kok menyerah sih? Kamu kan tahu niat kita baik, biasanya kalau niat baik pasti akan ada jalannya. Ini memang cobaan yang harus kita jalani, apa karena cobaan ini kamu jadi mundur? Ayo semangat, bantu aku kalau  apa yang kita jalani ini adalah sesuatu yang akan membahagiakan kita. Kamu sendiri yang punya keyakinan kita akan bersama hingga maut memisahkan kita …. Mana keyakinan itu, mana?”
Tiba tiba mata Non berkaca-kaca saat mendengar perkataanku.
“ Iya, aku masih tetap meyakini itu, tapi tidak untuk saat ini. Sudahlah Bang, kamu cari saja penggantiku yang lebih. Aku ingin hidupmu bahagia dan yang terpenting tidak mengecewakan orang-orang sekitarmu. Mulai saat ini aku akan menjalani hidup bersama anakku saja. Sejujurnya aku merasa berat dengan keputusan yang kuambil sekarang, tapi mau bagaimana lagi? Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita berdua!”
Ingin rasanya aku mengubah lagu Desember Kelabu menjadi Nopember Kelabu, karena  pembicaraan yang sejak awal hingga akhir itu membuat hatiku benar-benar kelabu, hiks. Kebersamaan kami hari sabtu itu, hingga malam larut, cahaya lampu kendaraan di jalan raya mulai, berarti sudah saatnya aku harus mengantar ia pulang.
“ Maafkan aku, Bang … maafkan aku …,” sepanjang perjalanan pulang  hanya kata-kata itu yang terucap dari mulutnya.
Salah satu kebiasaan Non yang tidak akan pernah kulupa adalah dia selalu mencium tanganku saat bertemu atau berpisah. Malam itu dia mencium tanganku lalu berbisik, “Terima kasih untuk semua yang telah Abang lakukan selama ini. Kudoakan Abang mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dariku. Abang  juga jangan lupa mendoakanku supaya aku kuat menjalani hidup bersama anak tanpa dirimu. Abang tak usah menghubungiku atau anakku lagi. Terlalu sakit untuk kami harus melupakanmu!”
“Tapi bagaimana dengan janjiku pada si Sulung untuk mengajak kalian ke Bukit Tinggi?”
Suatu hari, aku dan mantan kekasih ku ini bertemu, saat itu ia membawa anaknya yang lucu dan cerdas tersebut.  Mamanya tak mengeluarkan sepatah katapun. Raut wajahnya terlihat sedih. Sudah berbagai macam jurus kukeluarkan untuk mencairkan suasana, tetapi tetap saja seperti gunung es yang dingin dan beku. Senyumnya di hadapan anaknya terlihat dipaksakan.
Aku mengajak si ana berbicara “Sepertinya Om akan jarang datang ke rumah untuk menemuimu.”
“ Kenapa, om? om tak punya uang ya?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan si Sulung yang selalu memanggilku om. Aku terpaksa berbohong dengan mengatakan akan pindah kerja, dan tidak mungkin lagi untuk menemui mereka bertiga.
“Nanti kalau adek sakit seperti kemarin, siapa yang akan liat di rumah?” “Senyumku langsung menghilang saat si Sulung mengajukan pertanyaan itu kepadaku. Aku tak tahu bagaimana menjawabnya, jadi aku buru-buru mengalihkan perhatiannya.
Pertanyaan si Sulung membuat mamanya, meremas tanganku dengan kuat dan menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan anaknya, “Nanti Mama temani sendiri. Sudah ah, kamu jangan banyak tanya!”
Akhirnya si anak ini diam kelelahan. Aku langsung pamit berlalu. Sebelumnya aku sempat berpesan kepada si anak itu“ om pulang dulu ya, kamu harus jaga Mama. Jangan lupa temani Mama ke dokter kalau dia sakit,” kataku sambil mencium pipinya.
Mendengar perkataanku, mantan kekasih ku itu, tak kuasa membendung air matanya lagi. Dia meraih tanganku dan menciumnya.
“ Bang, maafkan aku! Mudahan dikehidupan lain kita bisa bersama“
Kata-kata terakhir darinya terus-menerus terngiang di telingaku saat aku menuliskan kisahku ini. Sejal saat itu kami tidak lagi bertemu, kabar yang aku dapat ia sudah menikah dengan orang lain.
Untuk membaca cerita ini dibalik sebuah curhat nyata, juga mengandung fiktif belaka. Mohon bagi yang tahu untuk juga hanya membacanya, jangan protes ataupun lainnya. Beberapa katanya juga diambil dari kata-kata orang lain. Tunggu kisah berikutnya dengan kekasih lain.