Wednesday, 20 February 2013

3 Rumah Ughang Peset ‘’Digerebek’’



METRO – Pembagian paket sembako persembahan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Mukomuko yang bekerjasama dengan Harian Radar Mukomuko (RM) terus berlanjut. Kemarin giliran 3 warga tidak mampu yang kediamannya didatangi tim ‘’gerebek’’ RM yang terdiri dari Amris Tanjung, Ikhsan Arisandi dan Sahat. Ketiganya masing-masing Sri Bagating dan Absyah, keduanya warga Desa Ujung Padang, Kecamatan Kota Mukomuko serta Nurhayati, warga Desa Pondok Batu.
Kali pertama tim menyambangi kediaman Sri. Sri yang hidup sebatang kara hanya memiliki 1 orang anak. Sudah cukup lama anaknya itu tinggal terpisah dengan Sri, di Desa Tanah Rekah. Dengan usia yang sudah lansia, Sri bergantung dengan perhatian sang anak serta keluarganya yang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
‘’Saya punya anak satu. Dia sudah menikah, tinggalnya di Tanah Rekah.  Di rumah ini saya sendirian saja,’’ kata Sri dengan bahasa Mukomuko kental.
Derita Absyah tak kalah mirisnya. Wanita berusia 80 tahun ini hanya mengandalkan cucunya untuk memberi nafkah. Suaminya sudah lama menghadap YME, demikian juga dengan kelima anaknya. Atas pemberian bantuan berupa paket sembako dari BUMD tersebut, Absyah sangat berterima kasih.
Di lain sisi, koordinator program BUMD peduli, Yadi Hermawanto meluruskan bahwa rencana semula yang akan dibagikan kepada warga miskin ada juga uang tunai dibatalkan. Mengingat keterbatasan dana, alokasi dialihkan untuk menambah jumlah sembako.
‘’Nilai uangnya tidak berubah, hanya saja uang yang rencananya akan diberi tunai kita alihkan dengan membeli sembako. Jadi jumlah sembakonya bertambah. Semua itu kita berikan demi membantu saudara-saudara kita yang tidak mampu,’’ tutup Yadi diamini Amris.(red) 

Sunday, 17 February 2013

Gerakan Bacaleg Ngambang

Amris Tanjung
Wartawan Radar Mukomuko

Jelang penetapan caleg sementara (DCS) dari hasil seleksi oleh parpol. Fakta penelusuran Wartawan Radar Mukomuko banyak Bakal Calon Anggota Legislatif (Bacaleg) pindah-pindah partai politik, tidak jarang yang mendaftar ke parpol lebih dari 1. Alasan mereka lebih kurang adalah pertimbangan peluang untuk memenangi perolehan suara dalam intren caleg parpol dan juga tidak nyaman dengan konflik antar pengurus dan sebagainya.
Fakta ini menunjukkan jika seorang kandidat tidak punya dasar atau konsep perjuangan yang jelas. Sebab setiap parpol memiliki selogan gerakan tersendiri, seperti NasDem dengan jorgan ‘’Restorasi’’, Hanura dengan selogan ‘’Hidup Mati untuk Rakyat’’ dan parpol lain dengan tema perjuangan sendiri-sendiri. Maka dengan dasar tersebut setiap caleg meski punya tujuan yang sama dengan perahu yang ditumpanginya bukan semata-mata bertujuan duduk manis di kursi empuk DPR/DPRD tanpa konsep.
Kenyataan ini dapat melemahkan semangat dukungan dari masyarakat, ada kesan seorang caleg hanya utusan keluar masing-masing untuk menjadi pajangan kehormatan. Padahal sesuai kuota suara untuk bisa duduk tidak akan mampu hanya dipenuhi keluarga semata, melainkan dukungan dari banyak pemilih yang menginginkan wakil dengan konsep perjuangan yang jelas.
Partai mau tidak mau ikut dirugikan, sebab tujuan politik didalam tidak sejalan. Partai semata-mata perahu menuju seberang, selanjutnya berjalan sendiri-sendiri, lantaran kepentingan politik sudah berbeda dari semula. Lebih ngerinya lagi gejolak bakal timbul, jika pengambil kebijakan dalam partai ikut arus para politisi ngambang tersebut. Sebab kader yang mengawal dari awal akan meras terbuangkan, berujung dengan perpecahan.
Dari hasil telaah, terhadap daftar nama-nama bacaleg parpol saat ini, persentase bacaleg ngambang cukup besar, yaitu mencapai 45 persen. Mereka sebagian besar berasal dari beground non parpol, namun punya pengalaman politik dan birokrasi ditambah dengan kemampuan untuk membiayai politik yang lumayan cukup.
Berikutnya tinggal menunggu apa yang akan terjadi. Logikanya jika melihat gerakan masing-masing bakal kandidat dan partai peserta pemilu saat ini. Menjelang penetapan calon tetap hingga penentuan nomor urut caleg, kemungkinan beberapa partai akan diuji lewat gejolak internal. Meski pemenang adalag pemilik suara terbanyak, yang artinya caleg urutan berapa saja bisa duduk. Namun tetap saja, gengsi pada posisi nomor cantik dalam parpol akan menjadi persaingan sendiri. Hal ini ditenggarai oleh masih terdapat pemilih yang belum menguasai sistim pemilihan nanti. Jika salah-salah menentukan kebijakan, belajar dari pengalaman sebelumnya, kemungkinan perpecahan itu ada. Artinya akan banyak parpol di Kabupaten Mukomuko retak sebelum pemilihan dilakukan. Pada saat ini terjadi parpol yang punya konsep pencalonan yang rapi bisa bertepuk tangan, diiringi kecepatan untuk mengambil alih basis suara demi tahta yang lebih besar.
Tetapi apapun fakta yang akan terlihat nanti, adalah dunianya politik. Tidak ada kawan sehidup-semati dan tidak pula ada musuh yang abadi. Kebijakan dan suasana seketika bisa berubah, sesuai arus dan kepentingan pada saat itu. Selalu ada konflik dan kebersamaan antar pemeran politik. Penulis bersama banyak pihak yang tak miliki kepentingan apa-apa selalu berharap, damai bersama untuk kemajuan. Selalu ada solusi setiap perkara.(**)