Sunday, 21 April 2013

Gerbang Money Politik 2014 ‘’Wani Piro’’

Oleh : Amris Tanjung

MONEY POLITIK atau politik uang agaknya akan menjadi isu yang paling hangat pada pemilu legislatif 2014 mendatang. Modus bisa jadi beragam, mulai dari pembagian sembako, penyerahan bantuan, pembagian uang secara langsung dan berbagai cara lainnya. Namun yang paling menarik, menurut penulis adalah politik uang melalui pihak tertentu, mungkin untuk mudahnya diberi nama ‘’Agen Suara’’.  Sang agen biasanya mengklaim adalah pentolan dalam suatu kelompok masyarakat karena ia biasa bersuara lantang.
Dengan memanfaatkan caleg ber-uang, sang agen datang menawarkan suara dengan jumlah cukup banyak. Caleg yang tengah berjuang menuju kursi wakil rakyat tentu tidak mau kehilangan kesempatan. Tidak sulit bagi si Agen untuk menggelontorkan isi dompet caleg. Cukup memberi gambaran mengenai jumlah pemilih dan mengklaim bisa diatur, asal sanggup bayar berapa ‘’Wani Piro’’, maka kerjapun beres.
Besar kemungkinan melihat dari gerak-gerik politisi sekarang, akan bermunculan ‘’Agen suara’’ jelang pemilihan 2014. Tinggal lagi si politisi memahami atau tidak kondisi di lapangan. Sebab bisa jadi si Agen betul-betul bisa membuktikannya lantaran ia punya pengaruh, namun dipastikan lebih banyak, agen, yang sekedar mencari uang. Seorang agen bisa berkomunikasi dengan lebih dari 2 orang caleg.
Apakah seorang caleg percaya dan menggunakan jasa sang agen, berapa hitungan per pemilih?. Jawaban pastinya ada pada masing-masing politisi itu sendiri. Dari isu yang berkembang bajad yang ditawarkan para agen Rp 100 rb hingga Rp 150 ribu untuk satu suara.  Soal bayar jelas di depan atau sebelum pemilihan.
Terus apakah masyarakat setuju dengan isu ini? dari penelusuran RM, nampaknya sangat besar resiko yang diambil caleg yang siap bayar. Sebab sebagian besar masyarakat sudah menetapkan siapa yang akan mereka pilih di 2014. Apapun alasannya suara mereka adalah untuk caleg dari kelompok  atau orang yang punya hubungan baik dengannya dan dapat dipercaya. Bahkan mengenai ada pihak tertentu yang mampu mengendalikan sekelompok masyarakat juga tidak bisa dipercaya. Sebab pemilihan dilakukan secara rahasia.
Namun bukan rahasia, ada sebagian masyarakat siap memilih dengan diberi uang atau barang. Terutama mereka yang merasa kecewa dengan anggota dewan selama ini. Setelah dibela dan dukung dengan Cuma-Cuma, kala duduk tidak lagi menunjukkan batang hidungnya. Janji politik yang pernah dilontarkan cair tanpa kepastian. Keputusan pemilih yang demikian, ‘’Siapapun yang duduk silahkan saja, yang jelas kami ingin bukti’’ hari ini berupa pemberian dari sang caleg.
Pertanyaannya, jika ada 2 atau 3 caleg yang memberikan mereka uang, siapa yang akan dipilih?. Hanya yang maha kuasa mengetahui tentang itu semua. Arti kata, caleg jangan berharap banyak suara dari hasil merayu orang yang baru dikenal atau memang tidak punya kedekatan secara histori. Namun salah juga kala seorang caleg tidak berusaha untuk mencari dukungan. Sebab seorang dewan bukan utusan keluarga melainkan utusan rakyat.
Gambaran ini hanya sebatas perkiraan. Bukan tidak mungkin 2014 akan dijadikan awal kebangkitan bagi masyarakat untuk betul-betul mengangkat dewan yang berkualitas untuk membela mereka. Sebab beberapa caleg yang diusung parpol cukup dikenal masyarakat sepak terjangnya. Diantaranya dari tokoh agama, kades, tokoh muda dan juga berbagai penggiat kegiatan sosial lainnya.(**)