Wednesday, 31 July 2013

Opini

Pemilu 2014, Politisi Muda Tergilas
//Oleh : Amris Tanjung – Wartawan
===============
PROSESI kampanye calon anggota legislatif secara terbuka jelang pemilihan 9 April 2014 tinggal menunggu waktu. Ini seiring dengan segera ditetapkannya Daftar Calon Tetap (DCT) oleh KPU usai lebaran mendatang. Partai Politik (Parpol) sebagai aktor utama dalam pemilihan kian gencar menyiapkan diri. Masing-masing mengelu-elukan kandidat yang mereka usung, dengan klaim mampu memperoleh suara maksimal. Setiap parpol klaim akan keluar sebagai pemenang. Opini politikpun mulai bermunculan, terutama melalui media massa oleh berbagai pihak. Kondisi ini berlaku hampir di semua wilayah di Indonesia tak terkeculai di Mukomuko.
 Aksi para politisi ini membuat suhu politik di Kabupaten Mukomuko makin terasa. Parpol peserta pemilu dan calon yang mereka usung melakukan berbagai menuver di setiap sudut, baik yang terekam ataupun tidak oleh media lokal Radar Mukomuko, yang menjadi tolak ukur bagi warga Mukomuko dalam mencari informasi politik sekitar mereka. Sejauh ini politisi muda belum menampakkan wujud mereka yang dikenal kritis dan berani.
Politisi muda nampaknya belum begitu menjanjikan. Jikapun nama mereka masuk dalam deretan calon dari 12 parpol peserta pemilu, namun bukan pada posisi yang diunggulkan. Bahkan sebagian besar para politisi muda terdepak dinomor urut buncit. Dalam politik tak sepenuhnya berlaku istilah menghormati politisi gaek. Siapa yang sudah menyatakan terjun ke dunia politik, seharusnya siap dengan segala konsekwensinya, termasuk kala harus terlibat saling sikut dengan politisi senior. Meski terkesan kejam dan tidak hormat, namun mencapai sebuah tujuan harus ada pengorbanan.
Politisi muda yang menggunakan istilah yang tua lebih dulu, berarti belum siap untuk sebuah perubahan pemikiran dalam pembangunan. Kalau sudah demikian, sebaiknya ambil langkah mundur untuk jalur yang lebih peminim. Jangan sampai masyarakat punya harapan kosong terhadap karya generasi muda yang dikenal cerdas dan berpendidikan tinggi ini.
Mayoritas parpol masih mengandalkan stok lama untuk ditempatkan pada posisi calon jadi. Lihat saja, partai yang meiliki dewan di DPRD Mukomuko, Demokrat, PDI Perjuangan, Golkar, PBB, PAN, Hanura, PKS dan PKB. Hampir seluruhnya mengandalkan stok lama, mulai dari dewan aktif hingga eks calon yang gagal pada pemilu sebelumnya. Kalaupun bukan, adalah eks kades, anggota BPD hingga kepala dusun.
Berharap pada NasDem selaku pendatang baru juga PKPI, PPP, Gerindra, yang tak pemiliki dewan periode sekarang. Agaknya belum jua memberi kepercayaan kepada generasi muda lebih luwes. Kandidat yang menjadi andalannya kebanyakan, tokoh yang sudah punya catatan di mata masyarakat. Mereka mantan kades, eks pejabat dan lebih banyak lagi kendidat yang sudah pernah mencalon kemudian gagal. Kita tidak melemahkan kemampuan politisi senior ini, bahkan bisa jadi mereka memang jauh lebih hebar dengan modal pengamalam. Namun setidaknya ada tahapan untuk mengikis istilah teori ‘’jadul’’ dalam pembangunan melalui pemikiran muda. Provinsi Bengkulu dikenal dengan sosok muda yang unggul, diantaranya terpilihnya Helmi Hasan sebagai Wali Kota Bengkulu, juga terbaru Sultan menjabat wakil gubernur dan banyak lagi politisi muda cemerlang lainnya.
Faktor penyebabnya, disamping ada kesan ketakutan dari pengambil kebijakan dalam sebuah parpol, karena dapat mengancam kesempatan mereka. Juga masih lemahnya kiprah generasi muda di Mukomuko, setiap selesai menamatkan pendidikan mereka memilih berkarya lewat posisi sebagai PNS. Ada yang ingin mencoba naik ring politik, mereka ditakut-takutkan dengan besaran kos demokrasi yang harus dikeluarkan. Dan banyak lagi faktor lain yang mengancam bercongkolnya semangat baru di kursi panas DPRD Mukomuko. Ingat pemilu sesaat lagi, bagi generasi muda yang sudah ambil bagian, masih besar kesempatan untuk menggempalkan semangat bersaing.
Jangan lupa, proklamtor Indonesia Bung Karno dan Bung Hatta berusoa 44 dan 42 tahun saat menjadi presiden. Serta Jendral Sudirman wafat pada usia 36 tahun, artinya sebelum itu ia sudah menjadi orang jendral yang menjadi pengobar semangat kepada rakyat Indonesia.