Tuesday, 16 February 2016

Diteror Ular Besar, Kades Kumpulkan Perangkat Desa



Basri : Lokasi Ular Ini Dikenal Angker
LUBUK PINANG – Ular besar yang nyaris menelan salah seorang warga atas nama Ed (20) dua hari lalu membuat warga Desa Arah Tiga, Kecamatan Lubuk Pinang siaga. Bahkan kades sudah mengumpulkan segenap perangkat desa, tokoh dan warga lainnya untuk membahas masalah ular yang masih misterius ini. Kemarin kader memimpin warga turun ke lokasi yang diduga tempat ular ini berdiam diri dan nyaris menelan warga. Lokasi ini sejak dulu oleh warga dikenal angker.
Dari pantauan Radar Mukomuko yang ikut turun bersama pihak desa, lokasi yang diisukan tenpat persembunyian ular ini cukup dekat dengan pemukiman masyarakat, yaitu sekitar 100 meter. Dimana berupa rawa dengan luas kurang lebih ¼ hekatre yang dipenuhi oleh rumput liar berupa sanit dengan ketinggian 1 hingga 2 meter. Sehingga dari pinggir tidak bisa melihat kondisi sebenar rawa ini, juga sulit dimasuki. Kemungkinan hidupnya ular dan sejenisnya di lokasi ini cukup besar. Pihak desa masih mencari strategi yang tepat untuk menangkap ular yang meresahkan warga ini.
Kades Arah Tiga, Marius, menyampaikan pihaknya masih berdiskusi dengan perangkat serta warga. Ia bersama warga ingin menyelesaikan masalah dengan menangkap ular ini, jika benar-benar ada. Ia juga mengakui lokasi kemunculan ular ini tidak jauh dari pemukiman warga, dikhawatirkan anak-anak yang bermain disekitar padang Sianit menjadi korban.
‘’Alternatif pertama, ular itu akan kita pancing. Kendalanya sekarang korban masih trauma, sehingga belum bersedia menunjukan titik pasti Ia diserang ular,’’ jelas Marius.
Basri warga dusun I, Arah Tiga yang juga tetangga korban menyampaikan, lokasi rawa dengan semak belukar sangat disenangi ular. Ia juga menyampaikan beberapa tahun yang lalu, dilokasi yang sama ditemukan ular cukup besar. Namun warga yang berupaya melakukan penangkapan tidak berhasil. Maka sangat masuk akal, jika ular terus tumbuh dan besar.
‘’Dulu sekitar 6 tahun yang lalu, dilokasi itu ada ular sebesar batang pinang. Ketika warga mau nangkap lari masuk rawa. Wajar jika ular itu sekarang semakin besar,’’ jelas Basri.
Basri juga menyampaikan, sejak dahulu, padang Sianit dikenal angker, sehingga tidak banyak warga yang berani memasuki wilayah tersebut. Basri menceritakan, sebagian pada sianit sudah dijual. Sang pembeli melakukan pebersihan lahan, belum lagi pekerjaan selesai tiba-tiba jatuh sakit. Sejak kejadian itu, warga sekitar semakin yakin kalau lokasi tersebut angker. Akhirnya warga tidak berani mengolah rawa dan dibiarkan ditumbuhi semak belukar dan ramput liar.
‘’Dulu di padang Sianit ada pohon pulai yang sangat besar. Warga yang memasang bubu disekitar padang Sianit, sering mendengar suara orang tertawa dari atas pohon. Tapi setelah diperhatikan tidak ada orangnya,’’ ungkap Basri.
Ibu korban, Nurjati (65) menceritakan, salah satu hobi Ed adalah memancing ikan serta mencari burung pada malam hari. Bersenjatakan pancing dan senapan angin hampir setiap malam Ed bersama rekannya mencari burung truwok yang suka tinggal di rawa-rawa. Selain itu, Ed juga suka menangkap ular. Namun selama ini belum pernah bertemu dengan ular dengan ukuran besar.
‘’Malam itu, anak saya pulang dengan wajah pucat dan ketakukan. Ia bilang sempat dihisap ulang di padang Sianit, beruntung sempat berpegangan pada pohon dan selamat dari ancaman ular. Anak saya itu juga suka nangkap ular. Sejak kejadian itu, saya larang keras, tidak boleh menangkap ular lagi’’ cerita Nurjati.(dul)