Friday, 19 February 2016

Ular Raksasa Muncul, Warga Mundur


LUBUK PINANG – Kemarin warga Desa Arah Tiga, Kecamatan Lubuk Pinang yang langsung dipimpin kades berkumpul di lokasi rawa yang diduga tempat persembumnyian ular raksasa yang nyaris menelan salah seorang warga, Edi (20). Namun rencana puluhan masyarakat yang ingin mengobrak-abrik rawa yang dipadati semak belukar berupa padang sanit ini gagal. Masyarakat mundur karena ketakutan, lantaran melihat sebuah alur yang diduga baru saja dilintasi ular yang belum diketahui pasti jenisnya ini.
Kades bersama warga terpaksa menyusun rencana baru untuk menaklukkan ular ini. Dimana bakal meminta bantuan aparat kepolisuan, kemudian memanggil ular ini keluar dengan dipancing menggunakan anjing. Selanjutnya umpan dipasang, warga akan menunggu di sekitar lokasi. Bila keluar maka langsung ditembak oleh apar kepolisian. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi jatuhnya korban jiwa.
Kades Arah Tiga, Marius, menjelaskan, kesepakatan semula, warga akan menerbas semak belukar. Akan tetapi dengan pertimbangan keselamatan warga, rencana tersebut dibatalkan. Kemudian dicari jalan lain, yakni ular dipancing keluar.
‘’Rawa ini cukup dalam, kalau ular menyerang, warga akan kesulitan membela diri. Kita tidak mau ambil resiko yang terlalu berat. Kita akan pancing supaya ular itu keluar,’’ jelas Marius.
Marius menambahkan, anjing merupakan umpan yang tepat, untuk menarik perhatian ular. Setidaknya dibutuhkan 2 ekor anjing dan akan ditempatkan pada arah yang berlawanan dari titik yang diduga menjadi tempat persembuyian ular. Marius juga menyampaikan, dugaan ada ular besar di padang Sanit diperkuat dengan jejak yang ada di sekitar rawa. Di salah satu sudut, ada semak belukar yang membentuk terowongan, selain itu, rumput yang ada di pinggir rawa terlihat rusak, seperti bekas dilalui ular ketika keluar untuk mencari mangsa.
‘’Kalau jejak-jejak yang ada sangat jelas, sepertinya ular itu keluar mencari mangsa,’’ tambah Marius.
Marius juga menyampaikan, jika sudah dipastikan ular terlihat, pihak desa akan meminta bantuan pihak kepolisian. Ia berharap ular bisa dilumpuhkan dengan cara ditembak. Selama dalam proses memancing, warga secara bergiliran akan berada di sekitar padang Sanit.
‘’Selama umpan dipasang, nanti ada warga yang menunggu, ketika ular keluar, langsung koordinasi dengan warga lain, serta pihak kepolisian,’’ tambah Marius.
Kepada Radar Mukomuko, Edi yang sebelumnya nyaris ditelan ular, menceritakan, pada malam kejadian, Ia bersama tetangganya bermaksud mancing ikan serta mencari burung truwok. Tiba di padang Sanit sekitar pukul 21.30 WIB, keduanya kemudian berpencar. Selangkah demi selangkah Edi menyusuri pematang, hingga tiba dibawah pohon yang ada di tengah rawa. Ketika sedang mencari burung truwok, tiba-tiba terdengar suara berdesis yang sangat keras, bersamaan dengan itu tubuh Edi tersedot ke arah suara berdesis. Edi melihat dengan jelas mulut ular yang menganga lebar. Sumber suara berasal dari binatang yang diduga ular berwana hitam. Warga menyakini, ular jenis ini ukurannya bisa jauh lebih besar dari jenis ular piton.
‘’Jarak saya dengan ular, kurang dari 2 meter, suaranya seperti rem angin mobil. Baju saya berkibar kaya kena angin dan badan saya ikut tertarik,’’ demikian Edi.(dul)