Wednesday, 9 March 2016

Gerhana Total di Mukomuko 105 Detik



Warga Gunakan Berbagai Cara Saksikan GMT
METRO – Kabupaten Mukomuko, pagi kemarin titik awal penampakan Gerhana Matahari Total (GMT) yang melintasi beberapa wilayah di Indonesia. Kondisi sempurna gerhana, dimana matahari tertutup total oleh bulan terjadi selama 103 detik, yaitu pada Pukul 07.19 WIB. Secara keseluruhan GMT terjadi dari Pukul 06.19 WIB dan berakhir pada Pukul 8.27 WIB. Fenomena langka yang hanya terjadi 350 tahun sekali pada titik yang sama ini disambut antusias masyarakat Mukomuko.
Suasana menunggu datangnya gerhana telah tampak dari Pukul 6.00 WIB kemarin, dimana diawali dengan sholat bersama hampir di seluruh masjid di Mukomuko. Mendekati waktu puncak gerhana warga mulai bersiap-siap untuk menatap arah matahari. Tidak hanya warga lokal, touris dari luar bahkan mancanegara juga tampak hadir menyaksikan fenomena langka ini di Mukomuko. Posisi pemantauan gerhana dilakukan di berbagai tempat terbuka dan di sepanjang jalan rumah masing-masing. Walau tidak punya kecamatan khusus atau kacamata hitam yang memadai, warga tetap semangat, melihat momen langka ini. Berbagai cara dilakukan, seperti memanfaatkan kaca film hitam yang dibentang ke arah matahari, kemudian menggunakan bekas klise poto dan berbagai alat lainnya. Walau diisukan dapat merusak kamera, warga tidak peduli, setiap saat mereka mengabadikan setiap momen yang terjadi. Sehingga dalam hitungan detik saja, poto-poto gerhana sudah berserakan di sosial media (Sosmed), seperti facebook, twitter dan lainnya.
Suasana meriah saat matahari mulai tertutup total, dalam kondisi gelap ini warga histeris, semuanya fokus menyaksikan matahari terutup bulan. Banyak yang histris mengucapkan rasa bangganya bisa menyaksikan peristiwa langka ini, juga terdengar pekikan ‘’Allahuakbar, Subhanalla’’.
Salah seorang warga, Firmansyah Zakaria mengatakan semua masyarakat sangat senang dilintasi gernaha ini. Saat terjadi kondisi total, masyarakat histris dengan mengucapkan berbagai kalimat sebagai kebanggaan dan juga syukur kepada yang kuasa.
‘’Kami semua keluar, saat gerhana pada puncaknya saya langsung bertabir, karena bersyukur dan takjub dengan kekuasaan Allah. Momen ini sangat menarik dan bagus,’’ tuturnya.
Warga lainnya, Toni selain senang, ia juga sedikit kecewa. Ia menilai pemerintah kurang respon memanfaatkan momen ini. Ia yakin jika diadakan pameran budaya dan wisata dan disosialisasikan dengan baik, maka akan banyak manfaatnya. Mukomuko bisa lebih dikenal lagi secara nasional hingga mancanegara. Karena kurang diekspos keluar, sangat sedikit turis yang datang ke Mukomuko, bahkan masyarakat tidak tidak bisa membeli kecamatan gerhana, karena tidak ada yang jual.
‘’Tidak disosialusasikan dengan baik saja turis luar masih datang, apalagi kalau dibuat spanduknya dan digencarkan kampanye di media. Semestinya kita bisa pamerkan budaya dan wisata di momen ini. Kenyaannya malah warga luar tidak tahu, bahwa sebenarnya wilayah Bengkulu yang dilintasi gerhana total itu sebenarnya Mukomuko,’’ paparnya.
Bupati Mukomuko, Choirul Huda,SH pada awak media mengaku sangat bangga atas fenomena yang terjadi langsung di Kabupaten ini. Seperti diketahui hanya sebagian kecil wilayah Indonesia yang mengalami gerhana matahari total dan Mukomuko salah satunya. Ia ingin masyarakat menjadikan momen ini untuk meningkatkan kepercayaan diri dan syukur kepada yang maha kuasa. Juga Huda berharap ada hikmahnya untuk kemajuan dan kebersamaan seluruh lapisan masyarakat.
‘’Ini peristiwa yang luar biasa dan perlu kita syukuri dan jadikan momen untuk bangkit membangun daerah lewat kebersamaan,’’ tutupnya.(jar)
Warga Histeris, Kumandangkan Takbir dan Tahmid
//Menangkap Pesona Gerhana Total di Mukomuko
GERGANA Matahari Total (GMT) melintasi Kabupaten Mukomuko dengan sempurna, dimulai Pukul 06.19 WIB hingga 8.27 WIB. Gerhana total hanya terjadi sekitar 1 menit 43 detik. Fenomena alam langka yang hanya terjadi 350 sekali pada titik yang sama ini betul-betul membuat warga Mukomuko terperangah. Bahkan banyak touris dari luar daerah juga hadir di Mukomuko. Berbagai sikap ditunjukkan warga saat kondisi gelap gerhana datang. Berikut pantauan Radar Mukomuko di lapangan.

AMRIS TANJUNG – Mukomuko

Sekitar Pukul 06.10 WIB masyarakat mulai menunggu munculnya matahari dari ufuk timur, sembari mengikuti sholat gerhana berjamaah. Sambil menunggu warga menyaksikan siaran langsung dari layar kaca. Mayoritas warga menyaksikan gerhana dari rumahnya masing-masing atau mencari lokasi yang dianggap strategis. Kantor bupati yang dijadikan tempat pengamatan dan penyiaran oleh BMKG yang fasilitasi pemda tidak banyak warga yang hadir, berkisaran ratusan orang saja, itupun sebagiannya pejabat daerah dan awak media. Bupati Choirul Huda,SH dan Wabup Haidir,S.IP bersama keluarganya juga tampak menyaksikan fenomena ini dari layar yang disiapkan di lantai 1 Setdakab.
Dari Pukul 6.20 WIB kondisi alam mulai sedikit berbeda dari terang pagi menuju suasana gelap gerhana. Saat ini warga mulai memakai kecamata hitam dan menggunakan berbagai alat pelindung dari silau matahari lainnya untuk melakukan pengamatan. Seperti memanfaatkan kaca film mobil berwarna gelap, melihat melalui air dalm nampan. Sesekali warga mengarahkan kameranya ke matahari untuk mengambil gambar. Namun tidak leluasa, selain memang hasilnya kurang maksimal, juga dari awal warga sudah diingatkan, bahwa sinar matahari gerhana ini dapat merusak kamera jika tanpa pelindung.
Sekitar Pukul 7.07 WIB gelap mulai terasa, masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana berhamburan keluar rumah, namun juga ada yang malah tidak keluar karena merasa ngeri dengan fenomena ini. Anehnya lagi, masih ada warga yang sama sekali belum mnegetahui, jika kemarin diprediksi terjadi gerhana, sehingga saat fenomena ini terjadi merasa kaget. Mungkin ini juga dampak dari minimnya sosialisasi oleh pemda, beda dengan daerah lain yang mengadakan berbagai keramaian dan bertunjukan, bahkan jauh sebelumnya spanduk atau baliho kampanye gerhana sudah disebarkan di berbagai tempat.
Pukul 7.19 WIB seluruh bagian matahari tertutup oleh bulan, atau terjadi gerhana matahari total. Masyarakat histeris menyaksikan fenomena ini, diantaranya tampak mengumandangkan kalimat-kalimat ‘’Allahuakbar, maha besar Allah’’ juga ungkapan ‘’Subhanallah-subhanallah’’ berulang-ulang. Juga banyak yang mengeluarkan bagai kalimat kaget dan pujian lainnya. Yang jelas momen total yang terjadi 1 menit 43 detik ini bersamaan dibidik dengan kamera oleh warga, sehingga tidak sedikit yang selfie dan membuat aksi lainnya. Beberapa saat kemudian, bulan bergesar dan terang kembali terjadi secara spontan, warga besorak gembira dan merasa puas.
‘’Subhanallah, Allahuakbar, ini luar biasa kekuasaan Allah, sangat hebat dan menarik,’’ kata Payol yang menyaksikan gerhana dari kantor bupati.
Salah seorang warga, Jafri mengatakan saat gerhana datang warga ramai keluar rumah berdiri di pinggir jalan. Suasananya sangat heboh dan ramai, karena ada berbagai ungkapan yang dikeluarkan bersamaan. Tapi juga ada memilih tetap dalam rumah karena takut saat gelap tiba-tiba datang.
‘’Sepanjang jalan di tengah kota ini nampak warga berdiri depan rumahnya masing-masing, semua sangat antusias menyaksikannya, tapi ada yang kecewan karena kondisi total dirasakan sangat singkat,’’ ungkapnya.
Bupati Choirul Huda, pada awak media mengaku bersukur dan bangga karena daerah Mukomuko dilewati gerhana total. Ia berharap fenomena ini dijadikan pembangkit semangat dan peningkatan iman kepada Allah SWT. Bupati didampingi sejumlah pejabat lain, juga berharap gerhana menjadi awal yang baik untuk kebangkitan Mukomuko lebih baik.(**)







Gerhana Lahir di RSUD Mukomuko

AIR MANJUTO – Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT), yang terjadi pagi kemarin 9 Maret 2016 mungkin sangat istimewa dan memikili sejarah tersendiri bagi pasangan Krisdayanti (19) dan Ibrahim (25) asal Desa Sumber Mulya, Kecamatan Penarik. Dimana tepat Pukul 10.30 WIB kemarin, pasangan ini melahirkan anak pertamanya. Bayi laki-laki ini pun diberi nama unik yaitu Gerhana, dengan nama panjangnya Aldino Gerhana Nazril Ilham.
Krisdayanti melahirkan secara normal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mukomuko dengan berat 3,8 Kg. Kabarnya sang ibu yang beruntung ini, mulai sakit sejak pagi kemarin, ia langsung dibawa ke RSUD Mukomuko. Setelah berjuang keras, akhirnya ia melahirkan Gerhana dengan selamat.
Dokter spesialis kebidanan, dr. Dodi Hendra, SpOg yang langsung menangani kelahiran bayi ini, menjelaskan bahwa sang ibu melahir normal. Semua ini tidak diagendakan, karena secara kebetulan Krisdayanti mengalami sakit melahirkan bersamaan dengan terjadinya fenomena alam yang hanya terjadi 350 tahun sekali pada titik yang sama ini. Dodi juga mengakui usia kandungannya sudah sempurna yaitu 9 bulan.
‘’Hanya kebutulan saja, waktu lahir terjadi gerhana matahari total. Usia kandungan sudah cukup. Ibu ini melahirkan dengan normal dan kondisi bayi sangat sehat saat keluar,’’ katanya
Terkait dengan nama bayi tersebut, Dodi menjelaskan dari awal orang tuanya sudah menyiapkan nama Aldino Nazril Ilham. Untuk mengenang momen gerhana, ia mengusulkan agar ditambah kata gerhana. Orang tua bayi nampaknya setuju dan sangat senang, sehingga diberi nama lengkap Aldino Gerhana Nazril Ilham.
‘’Sebetulnya orang tuanya sudah menyiapkan nama, saya cuma mengusulkan ada kata gerhananya, mereka setuju. Ini sangat bagus, momennya pas,’’ papar Dodi.
Masih disampaikan, Dodi seharian kemarin, ia hanya menangani 1 pasien melahirkan. Artinya tidak ada warga lain yang mengaja memanfaatkan momen GMT untuk melahirkan. Baik secara normal maupun sesar.
‘’Sampai sore ini, (Kemarin, red) baru satu pasien melahirkan. Yang sengaja ingin melahirkan secara sesar juga tidak ada,’’ demikian Dodi.(dul)

Gerhana Total