Monday, 3 April 2017

Peserta Uji Kompetensi Wartawan PWI


Bertahun Jadi Wartawan, 2 Hari Demam Panggung
UJI Kompetensi Wartawan (UKW) yang berlangsung pada hari Kamis (30/3) hingga Jumat (31/3) di Balai Pertemuan Ratu Samban Bengkulu Utara (BU sudah berakhir. 31 peserta dinyatakan kompeten, 2 orang belum berhasil dan 3 lagi mundur sebelum ujian. Menariknya, walau bertahun-tahun sudah malang melintas di dunia kewartawanan, namuan banyak yang demam panggung saat ikut UKW hanya 2 hari. Berikut ceritanya.

AMRIS TANJUNG – Mukomuko

MENULIS berbagai berita dan mewawancarai narasumber, mulai dari ketua RT, camat, kepala dinas, bupati, gubernur hingga menteri bahkan presiden merupakan pekerjaan sehari-hari seorang wartawan. Lucunya semua rutinitas ini terasa menegangkan bagi peserta UKW. Banyak wartawan bahkan redaktur dan pempret gerogi atau demam panggung kala mengikuti beberapa materi pengujian. Kondisi nervous ini karena ketakutan mendapat predikat tidak lulus atau dianggap tidak berkompeten.
Diantara materi UKW yang paling menegangkan yaitu saat uji jejaring. Dimana peserta diminta menulis 20 nomor hp dan nama narasumber, kemudian di diminta menghubungi beberapa. Yang ditakutkan oleh peserta, nomor narasumber yang dihubungi tidak menjawab, atau dijawab tapi narasumber tidak memberi keterangan sesuai harapan, karena dapat mempengaruhi nilai. Untuk peserta utama misalnya, makin tinggi jabatan narasumber yang dihubungi, nilainya makin tinggi.
Kedua yang menegangkan saat diminta menulis berita, seperti tajuk rencana, proposal berita infestigasi, opini serta ficture. Selain waktunya terbatas, juga topik berita ditentukan saat itu juga. Banyak peserta yang salah menulis huruf atau memasang kalimat sesuai aturan, padahal setiap hari dilakukan. Juga saat diminta menggelar rapat proyeksi berita yang akan diterbitkan, ide sulit keluar.
‘’Yang bikin stres narasumber yang kita hubungi tidak mengangkat saat ditelpon, sementara tim penguji terus mendesak karena waktu dibatasi. Apalagi saat penguji bicara dengan narasumber, malah ngaku tidak kenal dengan kita, bisa gak lulus UKW,’’ kata salah seorang peserta UKW Madya, Wahyudi dari Radar Utara.
Wartawan RB, Peri Haryadi peserta UKW muda, bersyukur bisa melewati materi ujian ini. Ia mengaku sempat panik menghadapi tim penguji, sebab mereka orang-orang hebat, karyanya dalam bidang media ini sudah mendunia. Seperti saat diminta mewancarai narasumber dengan sistim cegat. Dimana narasumber kita sedang berjalan keluar menuju mobil, kita wawancara sambil berlari dan harus mengajukan beberapa pertanyaan yang berkualitas. Juga saat diminta menghubungi narasumber yang ditentukan oleh tim penguji.
‘’Syukurlah bisa lulus, padahal awalnya saya sempat tidak yakin dan gerogi. Sebab cerita dari senior yang sudah ikut, pengujiannya sangat ketat. Saya sudah baca berbagai tulisan tentang wartawan dan UU pers, ternyata yang diuji adalah tugas sehari-hari,’’ kata Peri.
Ketua PWI Provinsi Bengkulu, Zacky Antoni, SH, MH mengatakan, UKW yang dilakasanakan di Arga Makmur ini adalah untuk angkatan yang ke IV.
“Ini adalah angkatan yang ke empat, sebagai upaya untuk menertibkan wartawan yang tidak jelas atau abal-abal,” sampai dia.
Selain itu, PWI juga berkomitmen untuk melawan berita bohong atau HOAX yang menjadi musuh bersama. “Kami juga mendorong untuk semua pihak agar melawan yang namanya berita HOAX,” singkat dia.
Zacky menambahkan, ada enam item acara yang dilaksanakan di Arga Makmur ini. Pertama adalah UKW, kedua, Pelantikan Pengurus PWI Bengkulu Utara, ketiga, Kejuaraan Bulutangkis, ke empat, lomba gaple eksekutif dan insan pers, kelima Deklarasi jaringan wartawan anti hoax dan yang keenam adalah Dialog publik. “Ini semua adalah rangkaian acara HPN di Arga Makmur, dan diharapkan tahun depan dilaksanakan didaerah lainnya, sembari mengangkat citra pers dimata masyarakat,” tutupnya.(**)